Benarkah Allah Maha Pengasih & Penyayang?

Sunday, January 30, 2011


Kata “Ar-Rahman” diambil dari “Ar-Rahmah” yang bererti “belas kasihan“, iaitu suatu sifat yang menunjukkan perbuatan memberi nikmat dan kurnia. Jadi kata “Ar-Rahman” bermakna: Yang berbuat (memberi) nikmat dan kunia yang banyak.

Kata “Ar-Rahim” juga terambil dari “Ar-Rahmah“, dan arti “Rahim” ialah: Yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu “tetap” padanya selama-lamanya.

Jika disatukan (seperti dalam surat al-Faatihah atau Bismallah), maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu berarti: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan kurnia yang tidak terhingga, kerana Dia memiliki sifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh kerana sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan kurnia Allah itu tidak ada putus-putusnya

Kata-kata “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” itu kedua-duanya diperlukan dalam susunan ini, kerana masing-masing mempunyai erti yang khusus.

Apbila seseorang mendengar orang menyifatkn Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan kurnia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan kurnia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Kerana itu perlu diikuti dengan Ar-Rahim, agar orang mengambil pengertian bahawa limpahan nikmat dan kurnia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya.

Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kenapa Dia memberikan kesulitan, menurunkan musibah dan azab kepada makhluk-Nya?

Sebahagian dari kita kerap kali memahami bahwa bentuk kasih sayang Allah hanya berupa kesenangan, kebahagiaan, kurnia, pertolongan, nikmat dan hidayah. Pdahal jika kita renungkan, musibah dengan berbagai bentuknya (sakit, bunkrup, miskin, kesempitan hidup, kematian) pada hakikatnya merupa sebahagian dari kasih sayang Allah bagi Makhluk-Nya. Bukankah bagi orang yang beriman kepada-Nya, musibah merupakan ujian atas keimanannya kepada Allah? Jika seorang hamba lulus dari ujian-Nya, maka darjatnya akan ditinggikan oleh Allah. Dengan musibah, seseorang akan tersedar dari kelalaiannya. Bahkan dengan musibah pula, potensi-potensi “diam” dalam diri manusia kerap kali muncul ke permukaan menjadi sebuah inovasi, kreatif dan semangat baru.

Musibah adalah kejadian yang datang atas ketentuan Allah dan tidak bisa ditolak kedatangannya. Musibah datang dan menimpa siapapun tanpa membeda-bedakan sasarannya. Musibah dapat menimpa orang-orang yang soleh juga orang yang biasa berbuat dosa. Musibah bisa menghampiri orang-orang yang ahli ibadah, juga yang ahli maksiat.

Meski pada dasarnya musibah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak diharapkan kedatangannya, namun bagi seorang mukmin musibah secara hakikat akan dipandang sebagai ujian dan jalan untuk meningkatkan darjat keimanannya terhadap Allah SWT. Hal ini dijelaskan di dalam surah Al ‘Ankabuut 2-3:

(Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan) mengenai ucapan mereka yang mengatakan, (“Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?) diuji lebih dulu dengan hal-hal yang akan menampakkan hakikat keimanan mereka. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang masuk Islam, kemudian mereka disiksa oleh orang-orang musyrik.
(Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar) di dalam keimanan mereka dengan pengetahuan yang menyaksikan (dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta) di dalam keimanannya.

Akan tetapi, manakala musibah menimpa orang-orang yang bermaksiat, maka musibah tersebut dapat dipastikan sebagai siksaan atau pembalasan atas perbuatan dosanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Muhammad ayat 10:

(Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka) atas diri mereka, dan anak-anak serta harta benda mereka (dan orang-orang kafir akan menerima hal yang seperti itu) yaitu mereka akan menerima akibat-akibat yang sama dengan apa yang telah diterima oleh orang-orang kafir sebelum mereka. 

Ertinya, musibah yang menimpa orang-orang kafir adalah bentuk pembalasan atas kekafiran mereka.
Musibah juga bisa berarti peringatan dari Allah atas kelalaian dan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang mukmin, dengan maksud agar dengan musibah yang menimpanya, seorang mukmin yang tengah asyik masyuk bergelumang dengan dosa dapat segera kembali ke jalan Allah dan menghentikan perbuatan maksiatnya
Menurut pandangan saya, azab sekalipun hakikatnya merupakan bentuk kasih sayang Allah selama azab itu diturunkan di dunia. Kerana azab atau siksaan bukan hanya sekadar balasan terhadap kejahatan yang diperbuat oleh manusia, melainkan juga berfungsi sebagai pengingatan agar manusia tidak terlena dalam lembah kemunkaran, supaya manusia kembali kepada kebenaran dan terhindar dari azab yang jauh lebih pedih, iaitu seksaan neraka.

Kerananya, adalah sangat tidak beralasan jika kemudian kita menyangsikan ke-Maha Rahman dan Rahiim-Nya.  Wallahu a’lam

0 comments: